ZarqunA

Bahasa hati dari seorang Ar..

We are [Still] Grow Up

Still grow up…
Dear,
Manusia, as a creature yang selalu tumbuh dan berkembang. Tepatkah pernyataan itu? Depend on siapa dulu… kalau depend on me, ya tepat tepat aja 
Dinamisasi manusia, kita, tiada ada hentinya. Kita kemarin, hari ini, dan esok tentunya tak sama. Tak sama dalam artian bagaimana? Kita selalu berkembang secara dinamis. Secara molekuler, atom penyusun tubuh kita tak pernah berhenti bervibrasi. Mungkin bagi yanng sudah tua (tua???) mereka tidak merasakan pertumbuhan fisik lagi. Tapi sadarkah kita bahwa jiwa kita terus tumbuh?? Semakin hari semakin banyak pengalaman, makin banyak ilmu (harusnya), makin wise, makin mature, makin bisa menempatkan diri, makin makin yang lain.
Karena jiwa kita terus tumbuh dan berkembang…, saya rasa tidak ada salahnya jika kita mencari tempat tumbuh dan berkembang yang kondusif, yang mampu mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangannya. Sama kasusnya dengan para orang tua yang menginginkan anaknya tumbuh dan berkembang secra maksimal, maka mereka memilihkan lingkungan sekolah yang baik, teman-temanya yang baik, fasilitas terbaik yang mampu mengoptimalkan potensi anak-anaknya. Tidak ada salahnya kan klo kita menganalogikan jiwa kita seperti anak-anak itu dan logika kita as orang tua yang menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya.
Tempat di mana kita saat ini adalah tempat terbaik yang Allah berikan buat kita. Tapi bagi saya bukan sebuah kesalahan jika saya mencari tempat yang menurut saya lebih baik untuk jiwa saya. Sebuah tempat lengkap dengan lingkungan situasi dan orang-orang yang ada, yang bisa menjaga saya, baik secara fisik dan psikis, yang bisa menjadi tempat tumbuh kembang jiwa saya secara optimal.
Definisi tempat di sini saya artikan sebagai situasi kondisi termasuk orang-orang di dalamnya. Senangnya hati jika situasi kondisi yang mendukung disertai dengan orang-orang entah keluarga atau teman yang juga full support. Yah, orang-orang disekitar kita akan sangat berpengaruh bagi kita. Jika mereka tidak ada pengaruhnya, tidak akan ada perintah “berkumpullah dengan orang sholeh”, “jika ingin melihat seseorang maka lihatlah teman-temannya”, “bergaul dengan tukang minyak wangi akan ikut wangi, bergaul dengan pandai besi akan… (kata-katanya apa ya??? 😀 )”.
So, mari kta cari tempat yang bisa mengoptimalkan tumbuhkembang jiwa kita. Tempat yang bisa membuatnya lebih baik tentunya. Tempat yang bisa menjaga yang sudah baik yang ada dalam jiwa kita. Ar said, apapun yang akan kita lakukan adalah sebuah keputusan. Apakah kita mau menjadi baik atau tidak adalah sebuah keputusan. Apakah kita akan memperbaiki diri, jiwa atau kepribadian kita, itu juga keputusan. Kawan, apakah keputusanmu kini??????

~langit jakarta yang tak pernah cerah, ketika jatuh cinta adalah ketidakperdayaan akan tetapi mencintai tetap sebuah keputusan~
10/07/11 20.28’
Ar.

Juli 10, 2011 Posted by | day of the day | Tinggalkan komentar

Sejarah Hari Valentine

Oleh: M Arif Furqon

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bismillahirrahmanirrahim

Berikut ini adalah sejarah valentine yang saya dapatkan dari sebuah milis. Selamat membaca tulisan berikut ini.

Sesungguhnya, belum ada kesepakatan final di antara para sejarawan tentang apa yang sebenarnya terjadi yang kemudian diperingati sebagai hari Valentine. Dalam buku ‘Valentine Day, Natal, Happy New Year, April Mop, Hallowen: So What?” (Rizki Ridyasmara, Pusaka Alkautsar, 2005), sejarah Valentine Day dikupas secara detil. Inilah salinannya:

Ada banyak versi tentang asal dari perayaan Hari Valentine ini. Yang paling populer memang kisah dari Santo Valentinus yang diyakini hidup pada masa Kaisar Claudius II yang kemudian menemui ajal pada tanggal 14 Februari 269 M. Namun ini pun ada beberapa versi. Yang jelas dan tidak memiliki silang pendapat adalah kalau kita menelisik lebih jauh lagi ke dalam tradisi paganisme (dewa-dewi) Romawi Kuno, sesuatu yang dipenuhi dengan legenda, mitos, dan penyembahan berhala.

Menurut pandangan tradisi Roma Kuno, pertengahan bulan Februari memang sudah dikenal sebagai periode cinta dan kesuburan. Dalam tarikh kalender Athena kuno, periode antara pertengahan Januari dengan pertengahan Februari disebut sebagai bulan Gamelion, yang dipersembahkan kepada pernikahan suci Dewa Zeus dan Hera…

Di Roma kuno, 15 Februari dikenal sebagai hari raya Lupercalia, yang merujuk kepada nama salah satu dewa bernama Lupercus, sang dewa kesuburan. Dewa ini digambarkan sebagai laki-laki yang setengah telanjang dan berpakaian kulit kambing.

Di zaman Roma Kuno, para pendeta tiap tanggal 15 Februari akan melakukan ritual penyembahan kepada Dewa Lupercus dengan mempersembahkan korban berupa kambing kepada sang dewa. Setelah itu mereka minum anggur dan akan lari-lari di jalan-jalan dalam kota Roma sambil membawa potongan-potongan kulit domba dan menyentuh siapa pun yang mereka jumpai. Para perempuan muda akan berebut untuk disentuh kulit kambing itu karena mereka percaya bahwa sentuhan kulit kambing tersebut akan bisa mendatangkan kesuburan bagi mereka. Sesuatu yang sangat dibanggakan di Roma kala itu.

Perayaan Lupercalia adalah rangkaian upacara pensucian di masa Romawi Kuno yang berlangsung antara tanggal 13-18 Februari, di mana pada tanggal 15 Februari mencapai puncaknya. Dua hari pertama (13-14 Februari), dipersembahkan untuk dewi cinta (Queen of Feverish Love) bernama Juno Februata.

Pada hari ini, para pemuda berkumpul dan mengundi nama-nama gadis di dalam sebuah kotak. Lalu setiap pemuda dipersilakan mengambil nama secara acak. Gadis yang namanya ke luar harus menjadi kekasihnya selama setahun penuh untuk bersenang-senang dan menjadi obyek hiburan sang pemuda yang memilihnya.

Keesokan harinya, 15 Februari, mereka ke kuil untuk meminta perlindungan Dewa Lupercalia dari gangguan serigala. Selama upacara ini, para lelaki muda melecut gadis-gadis dengan kulit binatang. Para perempuann itu berebutan untuk bisa mendapat lecutan karena menganggap bahwa kian banyak mendapat lecutan maka mereka akan bertambah cantik dan subur.

Ketika agama Kristen Katolik masuk Roma, mereka mengadopsi upacara paganisme (berhala) ini dan mewarnainya dengan nuansa Kristiani. Antara lain mereka mengganti nama-nama gadis dengan nama-nama Paus atau Pastor. Di antara pendukungnya adalah Kaisar Konstantine dan Paus Gregory I.

Agar lebih mendekatkan lagi pada ajaran Kristen, pada 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi Hari Perayaan Gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati Santo Valentine yang kebetulan meninggal pada tanggal 14 Februari.

Tentang siapa sesungguhnya Santo Valentinus sendiri, seperti telah
disinggung di muka, para sejarawan masih berbeda pendapat. Saat ini
sekurangnya ada tiga nama Valentine yang meninggal pada 14 Februari. Seorang di antaranya dilukiskan sebagai orang yang mati pada masa Romawi. Namun, ini pun tidak pernah ada penjelasan yang detil siapa sesungguhnya “St. Valentine” termaksud, juga dengan kisahnya yang tidak pernah diketahui ujung-pangkalnya karena tiap sumber mengisahkan cerita yang berbeda.

Menurut versi pertama, Kaisar Claudius II yang memerintahkan Kerajaan Roma berang dan memerintahkan agar menangkap dan memenjarakan Santo Valentine karena ia dengan berani menyatakan tuhannya adalah Isa Al-Masih, sembari menolak menyembah tuhan-tuhannya orang Romawi. Orang-orang yang bersimpati pada Santo Valentine lalu menulis surat dan menaruhnya di terali penjaranya.

Versi kedua menceritakan, Kaisar Claudius II menganggap tentara muda
bujangan lebih tabah dan kuat di dalam medan peperangan daripada orang yang menikah. Sebab itu kaisar lalu melarang para pemuda yang menjadi tentara untuk menikah. Tindakan kaisar ini diam-diam mendapat tentangan dari Santo Valentine dan ia secara diam-diam pula menikahkan banyak pemuda hingga ia ketahuan dan ditangkap. Kaisar Cladius memutuskan hukuman gantung bagi Santo Valentine. Eksekusi dilakukan pada tanggal 14 Februari 269 M.

Tradisi Kirim Kartu

Selain itu, tradisi mengirim kartu Valentine itu sendiri tidak ada kaitan
langsung dengan Santo Valentine. Pada tahun 1415 M, ketika Duke of Orleans dipenjara di Tower of London, pada perayaan hari gereja mengenang St. Valentine tanggal 14 Februari, ia mengirim puisi kepada isterinya di Perancis.

Oleh Geoffrey Chaucer, penyair Inggris, peristiwa itu dikaitkannya dengan
musim kawin burung-burung dalam puisinya.

Lantas, bagaimana dengan ucapan “Be My Valentine?” yang sampai sekarang masih saja terdapat di banyak kartu ucapan atau dinyatakan langsung oleh pasangannya masing-masing? Ken Sweiger mengatakan kata “Valentine” berasal dari bahasa Latin yang mempunyai persamaan dengan arti: “Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat, dan Yang Maha Kuasa”. Kata ini sebenarnya pada zaman Romawi Kuno ditujukan kepada Nimrod dan Lupercus, tuhan orang Romawi.

Disadari atau tidak, demikian Sweiger, jika seseorang meminta orang lain atau pasangannya menjadi “To be my Valentine?”, maka dengan hal itu sesungguhnya kita telah terang-terangan melakukan suatu perbuatan yang dimurkai Tuhan, istilah Sweiger, karena meminta seseorang menjadi “Sang Maha Kuasa” dan hal itu sama saja dengan upaya menghidupkan kembali budaya pemujaan kepada berhala.

Adapun Cupid (berarti: the desire), si bayi atau lelaki rupawan setengah telanjang yang bersayap dengan panah adalah putra Nimrod “the hunter” dewa Matahari. Disebut tuhan Cinta, karena ia begitu rupawan sehingga diburu banyak perempuan bahkan dikisahkan bahwa ibu kandungnya sendiri pun tertarik sehingga melakukan incest dengan anak kandungnya itu!

Silang sengketa siapa sesungguhnya Santo Valentine sendiri juga terjadi di
dalam Gereja Katolik sendiri. Menurut gereja Katolik seperti yang ditulis
dalam The Catholic Encyclopedia (1908), nama Santo Valentinus paling tidak merujuk pada tiga martir atau santo (orang suci) yang berbeda, yakni:
seorang pastur di Roma, seorang uskup Interamna (modern Terni), dan seorang martir di provinsi Romawi Afrika. Koneksi antara ketiga martir ini dengan Hari Valentine juga tidak jelas.

Bahkan Paus Gelasius II, pada tahun 496 menyatakan bahwa sebenarnya tidak ada yang diketahui secara pasti mengenai martir-martir ini, walau demikian Gelasius II tetap menyatakan tanggal 14 Februari tiap tahun sebagai hari raya peringatan Santo Valentinus.

Ada yang mengatakan, Paus Gelasius II sengaja menetapkan hal ini untuk
menandingi hari raya Lupercalia yang dirayakan pada tanggal 15 Februari.

Sisa-sisa kerangka yang digali dari makam Santo Hyppolytus di Via Tibertinus dekat Roma, diidentifikasikan sebagai jenazah St. Valentinus. Jenazah itu kemudian ditaruh dalam sebuah peti emas dan dikirim ke Gereja Whitefriar Street Carmelite Church di Dublin, Irlandia. Jenazah ini telah diberikan kepada mereka oleh Paus Gregorius XVI pada 1836.

Banyak wisatawan sekarang yang berziarah ke gereja ini pada hari Valentine, di mana peti emas diarak dalam sebuah prosesi khusyuk dan dibawa ke sebuah altar tinggi di dalam gereja. Pada hari itu, sebuah misa khusus diadakan dan dipersembahkan kepada para muda-mudi dan mereka yang sedang menjalin hubungan cinta. Hari raya ini dihapus dari kalender gerejawi pada tahun 1969 dengan alasan sebagai bagian dari sebuah usaha gereja yang lebih luas untuk menghapus santo dan santa yang asal-muasalnya tidak bisa dipertanggungjawabkan karena hanya berdasarkan mitos atau legenda. Namun walau demikian, misa ini sampai sekarang masih dirayakan oleh kelompok-kelompok gereja tertentu.

Jelas sudah, Hari Valentine sesungguhnya berasal dari mitos dan legenda
zaman Romawi Kuno di mana masih berlaku kepercayaan paganisme (penyembahan berhala). Gereja Katolik sendiri tidak bisa menyepakati siapa sesungguhnya Santo Valentine yang dianggap menjadi martir pada tanggal 14 Februari. Walau demikian, perayaan ini pernah diperingati secara resmi Gereja Whitefriar Street Carmelite Church di Dublin, Irlandia dan dilarang secara resmi pada tahun 1969. Beberapa kelompok gereja Katolik masih menyelenggarakan peringatan ini tiap tahunnya.

Kepentingan Bisnis

Kalau pun Hari Valentine masih dihidup-hidupkan hingga sekarang, bahkan ada kesan kian meriah, itu tidak lain dari upaya para pengusaha yang bergerak di bidang pencetakan kartu ucapan, pengusaha hotel, pengusaha bunga, pengusaha penyelenggara acara, dan sejumlah pengusaha lain yang telah meraup keuntungan sangat besar dari event itu.

Mereka sengaja, lewat kekuatan promosi dan marketingnya, meniup-niupkan Hari Valentine Day sebagai hari khusus yang sangat spesial bagi orang yang dikasihi, agar dagangan mereka laku dan mereka mendapat laba yang amat sangat besar. Inilah apa yang sering disebut oleh para sosiolog sebagai industrialisasi agama, di mana perayaan agama oleh kapitalis dibelokkan menjadi perayaan bisnis.

Pesta Kemaksiatan

Christendom adalah sebutan lain untuk tanah-tanah atau negeri-negeri Kristen di Barat. Awalnya hanya merujuk pada daratan Kristen Eropa seperti Inggris, Perancis, Belanda, Jerman, dan sebagainya, namun dewasa ini juga merambah ke daratan Amerika.

Orang biasanya mengira perayaan Hari Valentine berasal dari Amerika. Namun sejarah menyatakan bahwa perayaan Hari Valentine sesungguhnya berasal dari Inggris. Di abad ke-19, Kerajaan Inggris masih menjajah wilayah Amerika Utara. Kebudayaan Kerajaan inggris ini kemudian diimpor oleh daerah koloninya di Amerika Utara.

Di Amerika, kartu Valentine pertama yang diproduksi secara massal dicetak setelah tahun 1847 oleh Esther A. Howland (1828 – 1904) dari Worcester, Massachusetts. Ayahnya memiliki sebuah toko buku dan toko peralatan kantor yang besar. Mr. Howland mendapat ilham untuk memproduksi kartu di Amerika dari sebuah kartu Valentine Inggris yang ia terima. Upayanya ini kemudian diikuti oleh pengusaha-pengusaha lainnya hingga kini.

Sejak tahun 2001, The Greeting Card Association (Asosiasi Kartu Ucapan AS) tiap tahun mengeluarkan penghargaan “Esther Howland Award for a Greeting Card Visionary” kepada perusahaan pencetak kartu terbaik.

Sejak Howland memproduksi kartu ucapan Happy Valentine di Amerika, produksi kartu dibuat secara massal di selutuh dunia. The Greeting Card Association memperkirakan bahwa di seluruh dunia, sekitar satu milyar kartu Valentine dikirimkan per tahun. Ini adalah hari raya terbesar kedua setelah Natal dan Tahun Baru (Merry Christmast and The Happy New Year), di mana kartu-kartu ucapan dikirimkan. Asosiasi yang sama juga memperkirakan bahwa para perempuanlah yang membeli kurang lebih 85% dari semua kartu valentine.

Mulai pada paruh kedua abad ke-20, tradisi bertukaran kartu di Amerika
mengalami diversifikasi. Kartu ucapan yang tadinya memegang titik sentral, sekarang hanya sebagai pengiring dari hadiah yang lebih besar. Hal ini sering dilakukan pria kepada perempuan. Hadiah-hadiahnya bisa berupa bunga mawar dan coklat. Mulai tahun 1980-an, industri berlian mulai mempromosikan hari Valentine sebagai sebuah kesempatan untuk memberikan perhiasan kepada perempuan pilihan.

Di Amerika Serikat dan beberapa negara Barat, sebuah kencan pada hari Valentine sering ditafsirkan sebagai permulaan dari suatu hubungan yang serius. Ini membuat perayaan Valentine di sana lebih bersifat ‘dating’ yang
sering di akhiri dengan tidur bareng (perzinaan) ketimbang pengungkapan rasa kasih sayang dari anak ke orangtua, ke guru, dan sebagainya yang tulus dan tidak disertai kontak fisik. Inilah sesungguhnya esensi dari Valentine Day.

Perayaan Valentine Day di negara-negara Barat umumnya dipersepsikan sebagai hari di mana pasangan-pasangan kencan boleh melakukan apa saja, sesuatu yang lumrah di negara-negara Barat, sepanjang malam itu. Malah di berbagai hotel diselenggarakan aneka lomba dan acara yang berakhir di masing-masing kamar yang diisi sepasang manusia berlainan jenis. Ini yang dianggap wajar, belum lagi party-party yang lebih bersifat tertutup dan menjijikan.

Ikut Mengakui Yesus sebagai Tuhan

Tiap tahun menjelang bulan Februari, banyak remaja Indonesia yang notabene mengaku beragama Islam ikut-ikutan sibuk mempersiapkan perayaan Valentine. Walau sudah banyak di antaranya yang mendengar bahwa Valentine Day adalah salah satu hari raya umat Kristiani yang mengandung nilai-nilai akidah Kristen, namun hal ini tidak terlalu dipusingkan mereka. “Ah, aku kan ngerayaain Valentine buat fun-fun aja…, ” demikian banyak remaja Islam bersikap. Bisakah dibenarkan sikap dan pandangan seperti itu?

Perayaan Hari Valentine memuat sejumlah pengakuan atas klaim dogma dan ideologi Kristiani seperti mengakui “Yesus sebagai Anak Tuhan” dan lain sebagainya. Merayakan Valentine Day berarti pula secara langsung atau tidak, ikut mengakui kebenaran atas dogma dan ideologi Kristiani tersebut, apa pun alasanya.

Nah, jika ada seorang Muslim yang ikut-ikutan merayakan Hari Valentine, maka diakuinya atau tidak, ia juga ikut-ikutan menerima pandangan yang mengatakan bahwa “Yesus sebagai Anak Tuhan” dan sebagainya yang di dalam Islam sesungguhnya sudah termasuk dalam perbuatan musyrik, menyekutukan Allah SWT, suatu perbuatan yang tidak akan mendapat ampunan dari Allah SWT. Naudzubillahi min dzalik!

“Barang siapa meniru suatu kaum, maka ia termasuk dari kaum tersebut, ”
Demikian bunyi hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Tirmidzi.

Ibnul Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah juga berkata, “Memberi selamat atas acara ritual orang kafir yang khusus bagi mereka, telah disepakati bahwa perbuatan tersebut haram. Semisal memberi selamat atas hari raya dan puasa mereka, dengan mengucapkan, “Selamat hari raya!” dan sejenisnya. Bagi yang mengucapkannya, kalau pun tidak sampai pada kekafiran, paling tidak itu merupakan perbuatan haram. Berarti ia telah memberi selamat atas perbuatan mereka yang menyekutukan Allah. Bahkan perbuatan tersebut lebih besar dosanya di sisi Allah dan lebih dimurkai dari pada memberi selamat atas perbuatan minum khamar atau membunuh. Banyak orang yang kurang mengerti agama terjerumus dalam suatu perbuatan tanpa menyadari buruknya perbuatan tersebut. Ia telah menyiapkan diri untuk mendapatkan kemarahan dan kemurkaan Allah. “

Allah SWT sendiri di dalam Qur’an surat Al-Maidah ayat 51 melarang umat
Islam untuk meniru-niru atau meneladani kaum Yahudi dan Nasrani, “Hai
orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”

Wallahu a’lam

Wassalam

Sumber: http://arieffurqon.com/2009/02/sejarah-valentine/

Februari 11, 2011 Posted by | day of the day, tulisan pinjeman | Tinggalkan komentar

Jika Anugerahnya, Biarkan Abadi Selamanya (I)


“Kawan-kawan marilah pulang, pada bu guru selamat siang…”

Sayup-sayup terdengar dari kejauhan suara siswaTK Pertiwi Kepatihan menyanyikan lagu “Mari Pulang”. Satu per satu siswa mulai keluar dari pintu diiringi canda ceria dari mereka.

Sebuah desa yang terletak di kaki pegunungan Seribu, dengan penduduk yang tak lebih dari 3000 jiwa, menjadi bagian dari masa kecil anak-anak itu.

Tk Pertiwi Kepatihan menampung tak kurang dari 50 siswa. Dengan gedung yang seadanya, ruang kepala sekolahnya pun hanya bersekat almari. Dengan hanya didampingi satu guru, sang kepala sekolah sudah harus bisa membimbing 50 siswa tersebut. Perbandingan yang tidak proporsional, tentunya. Tapi mau bagaimana lagi, begitulah kondisi di desa.

Sudah menjadi rutinitas bagi siswa-siswa TK tersebut, mereka pulang sekolah dengan berjalan kaki melewati jalan yang masih bertata batu kali, di kanan-kirinya terbentang sawah. Pohon disepanjang jalan itu menjadi peneduh bagi meraka.

Walaupun mereka pulang pukul sepuluh pagi, terik matahari sudah cukup memyengat bagi anak-anak seusia mereka. Sudah menjadi sifat dasar anak-anak, mereka selalu tertarik dengan apa yang mereka temui. Hingga mereka butuh lebih banyak waktu untuk berjalan sampai kerumah masing-masing. Anak-anak…..

Beberapa diantara anak-anak itu pulang dengan buah mahoni di tangan mereka. Sari, Umar, Adi, Liesa, Tris, Wid. Buah mahoni itu akan berputar bagus ketika dilepaskan dari atas jembatan.

Telah genap satu tahun mereka menjalani masa TK mereka. Tahun ajaran baru telah dimulai. Anak-anak pemain buah mahoni itu masuk di SD yang sama. SDN II Kepatihan. SD Negeri yang tak jauh dari TK Pertiwi. Sekolah, yang mau tak mau mereka harus memilihnya. Hari itu, anak-anak diantar orangtuanya mendaftar sekolah disana. Masih lekat dibenak Liesa hari pertamanya disekolahnya yang baru.

Tujuh belas siswa jumlahnya, lumayan banyak. Adi Nugraha, seorang siswa berkemampuan diatas temen-temennya, menjadi favorit guru-guru di sana. Ia pun ditunjuk sebagai ketua kelas. Setiap kali bel masuk berbunyi, Adi akan memimpin teman-temannya untuk berbaris.

“Siaaapp grakkk!!!! Luruskan!!!!”

Kemudian mereka masuk satu per satu dengan rapi. Begitulah mereka tiap paginya.

Aliesa Wulan Hemastuti, siswi yang kurang menonjol, cenderung pendiam pada awalnya, tetapi mampu survive menghadapi persaingan prestasi dengan teman-temannya. Walaupun pada kenyataanya, sulit bagi Liesa untuk mengalahkan Adi yang selalu d’ best.

”Sepintar apa to, Adi itu? Sudah tiap hari bapak ajari kamu, tapi tetep aja ndak bisa juara satu. Ibu tu pengen anak ibu kayak Adi itu..”

Begitulah kira-komentar ibunya liesa tiap penerimaan rapor.

”Ya kalau gitu jadiin aja Adi itu anak ibu..”

Sudah menjadi tradisi dari tahun ke tahun. Juara satu selalu di pegang Adi, begitupun posisi ketua kelas. Sepertinya tak ada kandidat lain yang sebanding dengannya. Lain lagi pandangan Liesa, suatu saat dia yakin akan menjadi juaranya.

Ada yang unik dari Adi. Dia amat sangat gengsi untuk minta contoh jawaban dari Liesa. Yahhh, dia laki-laki. Walaupun Liesa punya jawabannya, bagi Adi, no-lah…

Matematika menjadi favorit Liesa. Bagi siswa yang lain, matematika menjadi momok bagi mereka. As ussually-lah…

Walaupun satu kelas, Adi-Liesa jarang ngobrol. Kalaupun terjadi percakapan paling –paling ucapan saling ejek berujung ngambek. Sekedar bertegur sapa pun mereka jarang. Jaga gengsi masing-masing…

Tahun demi tahun tlah terlewati, tingkatan-demi tingkatan telah mereka lalui. Terpatri dalam jiwa mereka ”sekolah untuk kehidupan yang lebih baik”. Dengan pembimbing dan fasilitas seadanya, mereka mengembangkan apa yang telah Allah anugerahkan buat mereka. Jasad, ruh, akal. Akal yang akan membawa mereka pada pilihan hidup.

Liesa dan kawan-kawan harus berjuang keras untuk bersaing dengan siswa dari sekolah lain yang tentunya secara mutu lebih baik dari sekolah dasar di kaki gunung Seribu itu.

Kabut pagi masih menyelimuti jalanan ketika mereka berangkat ke sekolah. Wangi embun pagi mengiringi langkah kaki mereka. Hari itu ada lomba mata pelajaran tingkat kecamatan.

Seperti biasanya, Adi berjuang dengan sosial kewarganegaraannya. Liesa, membawa rumus phytagorasnya. Sedangkan untuk mata pelajaran IPA dipercayakan kapada temen mereka, Eka.

Kehendak Allah di atas segalanya. Manusia hanya berusaha. Butuh kemampuan lebih bagi anak-anak desa mengalahkan siswa-siswa dari sekolah kota. Secara fasilitas dan informasi teknologi, sekolah desa jauh tertinggal. Akhir kata, tak ada yang membanggakan diantara mereka. Tapi bagi Liesa, dia tau ibunnya always supporting her.

Jadwal lomba mata pelajaran bahasa Indonesia tidak berbarengan dengan yang lain. Awalnya bahasa Indonesia dipecayakan pada Sari. Tapi…Maha Suci Allah yang jiwa kita di tangannya, Sari sakit. Pak guru bingung harus mencari pebgganti bagi Sari diantara dua siswa terbaiknya, Adi dan Liesa.

Akhirnya, pak guru membagi papan tulis menjadi dua, memberikan garis marka dengan kapur tulis. Satu bagian untuk Adi, dan satu bagian untuk Liesa.

”Tunjukkan kemampuan terbaik kalian di mata pelajaran bahasa Indonesia. Jawab pertanyaan Pak Guru dipapan tulis dan jangan saling liat.”

Disaksikan oleh seluruh kelas, mereka berdua menuju papan tulis. Senyuman lebar terlihat di wajah kedua siswa itu.yahh…cukup adil sih….

”Ngajak saingan nih….”

Mungkin yang ada di benak Adi. Liesa telah menguntitnya bertahun-tahun.

I’m sure that you will be lose…”

Penuh keyakinan Liesa mengatakannya dalam hati.

Kali ini, Allah mengabulkan permintaan Liesa. Adi berjalan ke tempat duduknya masih dengan senyum di bibirnya. Kali Liesa pemenangnya. Pertanyaan besar bagi Liesa. Ada yang tak wajar dari kekalahan Adi. Adi takkan  menyerah begitu saja. Liesa tau, Adi bisa lebih baik lagi. Apa dia cuma mengalah, atau mungkin dia tak cukup tertarik menjadi duta untuk lomba itu…

Whatever-lah Lies….

Di tempat yang sama mereka belajar, dari orang yang sama mereka diajar, dari warung yang sama mereka jajan. Mereka tumbuh bersama. Enam tahun sudah mereka bersama. Disadari atau tidak, mereka memiliki ikatan hati sebagi teman kecil. Teman bermain melewati masa kanak-kanak mereka.

Hari itu, hari kelulusan meeka. Sebuah amplop telah berada di tangan wali murid berisikan nilai ebtanas murni.

”Subhanallah…ladies first, pren. Saat itu telah tiba….akhirnya aku bisa mengalahkamu…”

Kalimat itu ada di kepala Liesa. Liesa cukup memahami siapa lawannya. Dia tak mudah untuk dikalahkan.

”What wrong with you?? Tak seperti biasanya…”

Tapi, pikiran itu segera tergantikan rasa bahagia. Dengan nilainya yang tinggi, Liesa dapat dengan mudah masuk SMP favoritnya.

 

to be continued, insyaallah….

23112009

Februari 11, 2011 Posted by | kata hati | Tinggalkan komentar

Sorry, I cant write again…

 

Menulis, ketika aku menulis biasanya ide awalnya dari apa yang terjadi di sekitarku, apa yang yang terjadi pada diriku atau apa yang terjadi pada teman-temanku. Aku tidak pernah punya buku diary. Tapi ketika aku buka dokumen pribadi di laptopku atau blogku yang hampir satu tahun ini aku sering nulis di sana, aku seperti membuka sebuah bukku diary. Dan itu mengingatkanku pada banyak hal. Dan ternyata…I don’t like it.

Tulisan-tulisanku menjadi dokumen otentik kisah masa lalu. Kadang aku bertanya pada diriku sendiri apakah aku suka mendokumentasikan sesuatu? Sepertinya, iya. Aku menulis ulang semua ucapan selamat hari raya yang aku terima setiap tahunnya. Aku juga menulis ulang ucapn selamat ulanng tahun yang teman-temanku berikan untukku. Bahkan terkadang aku menulis ulang tausyiah yang diberikan oleh temen-temanku. Dan sesekli aku membukanya……, dan begitu juga dengan tulisan-tulisanku sendiri…..

Dan sekaarang aku sedang tak ingin membacanya. Aku tak ingin membaca masa laluku lagi. it’s hurt me again and again. Memorize me on something, some people in my life. Tapi detik ini aku masih melakukan hal yang paling aku sukai saat ini. Menulis. But tomorrow, maybe i have conduct my desire to write something.

 

 

Februari 8, 2011 Posted by | day of the day, kata hati | Tinggalkan komentar

Women in Chemistry

The fact that 2011 is being celebrated as the International Year of Chemistry is very poignant for women chemists, as 2011 is the 100th anniversary of Marie Skłodowska Curie—perhaps the most famous female chemist—being awarded the Nobel Prize in Chemistry for her discovery and investigation of radium and polonium. In fact Marie Curie was the first female scientist to receive a Nobel Prize, as she first won the Nobel Prize for Physics in 1903. Besides Marie Curie, there have only been three other female Nobel Laureates in Chemistry: her daughter Irene Joliot-Curie (1935, for the synthesis of new radioactive elements), Dorothy Crowfoot Hodgkin (1964, for X-ray procedures to study natural products), and Ada E. Yonath (2009, for research into the ribosome). In contrast, the first award of a Nobel Prize in Medicine or Physiology to a female was in 1977, and to date there have been nine female winners. So what is the reason for the scarcity of top-flight women chemists in academia?

 

Chemistry has traditionally been a male-dominated discipline, and women have had very few role models. Women chemists of the early 20th century certainly did not have it easy. Thankfully the days are long gone when women chemists were considered as exotic species and approached with caution and trepidation by their male colleagues. It was not until the 1960s that chemistry started to become an acceptable profession for women and in general women have had to work disproportionately hard to achieve equal status to their male colleagues. Organic synthesis has proved one of the hardest discipline for female chemists to make their mark, but there are now many very successful women working in this area. It was often assumed that a woman was promoted simply because she was female, not because she was suitably qualified and the best candidate for the job. Although the situation is changing, it has taken a long time for attitudes to change and for female chemists to reach the top of the profession. Many chemical societies now provide programs to improve the status of women in chemistry by providing services that focus on their professional needs. There are today many examples (but of course still not enough) of women who are professors and heads of institutes and universities as well as members of editorial boards purely on their own merit. As an example, Brigitte Voit (Leibniz-Institut fuer Polymerforschung, Dresden) is on the Editorial Board, and Lia Addadi (Weizmann Institute of Science, Rehovot, Israel) and Carolyn Bertozzi (University of California, Berkeley, USA) are on the International Advisory Board of Angewandte Chemie. Further information about the lives and careers of women chemists can be found in the book “European Women in Chemistry” which has been published to coincide with the International Year of Chemistry. Of course, academia is only one career option, and women chemists often opt for a career in industry or other science-related areas such as patents and publishing, after completing their studies. As an example, half of the editors at Angewandte Chemie are female and embarked on a publishing career directly after completing their PhDs or after postdoctoral research. One factor governing the career choice of women is that working in academia is very demanding and requires huge personal sacrifice for a person to reach the top, while alternative careers may provide better opportunities to balance the pressures of their professional and personal lives.

 

Two years ago in Angewandte Chemie we started the Author Profiles to highlight those authors who had published ten manuscripts in the Journal in the last ten years. In this time we have profiled five women chemists—Roberta Sessoli (Florence University), Olga V. Boltalina (Colorado State University), Veronique Gouverneur (University of Oxford), Teresa Carlomagno (EMBL, Heidelberg), Kim Rene  Dunbar (Texas A&M University)—with the sixth—Annie Powell (Karlsruhe University)—appearing in this Issue. This is still not a huge number, compared to the number of profiled male chemists (98), but it is definitely a step in the right direction.

 

As part of the International Year of Chemistry and to celebrate the 100th anniversary for Marie Curie receiving the Nobel Prize in Chemistry, we have dedicated this Issue of Angewandte Chemie to female chemists—with all the manuscripts having a female as principle author—to illustrate the strength and depth of the contribution of women to chemistry.

 

dari Diane Smith (Angew. Chem. Int. Ed. 2011, 50, 782 – 783)

Senior Associate Editor Andgewandte Chemie

Februari 7, 2011 Posted by | Kimia, tulisan pinjeman | Tinggalkan komentar

Optimis, Kawan!!!!

Optimisme adalah memandang hidup ini sebagai persembahan terbaik.

Tidak ada yang sesuatu yang terjadi begitu saja dan mengalir sia-sia.

Passti ada tujuan. Pasti ada maksud.

Mungkin saja kita mengalami pengalaman buruk

yang tidak mengenakkan,

maka keburukan itu hanya karena kita melihat dari

salah satu sisi mata uang saja.

Bila kita berani menengok ke sisi yang lain,

kita akan menemukan pemandangan yang lain.

Kita tidak harus menjadi orang tersenyum terus atau

menampakkan wajah yang ceria.

Optimisme terletak di dalam hati, bukan hanya terpampang dimuka.

Jadilah optimis karena hidup terlalu rumit untuk dipandang

dengan mengerutkan alis atau berkeluh kesah.

 

Februari 7, 2011 Posted by | day of the day | Tinggalkan komentar

Cinta ada di dapur

Cinta itu ibarat gula, manis rasanya

Cinta itu ibarat garam yang akan memberikan rasa dalam kehidupan kita

Cinta itu ibarat tepung terigu, lembut, putih dan bersih

Cinta itu ibarat karamel, bikin lengket

Cinta itu ibarat api, ia bisa membakar semangatmu kawan…

Cinta itu ibarat kopi, kadang ia membuatmu tidak bisa tidur

Cinta itu ibarat cabe yang bisa membuat perutmu mules

Cinta itu ibarat bawang merah, jika kamu mengirisnya maka kamu akan menangis dibuatnya

Cinta itu ibarat pisau, ia bisa melukai dan membunuhmu

Ternyata….cinta tak lebih dari semua yang ada di dapur

So, carilah cinta di dapurmu 🙂

Februari 7, 2011 Posted by | kata hati | Tinggalkan komentar

Adjie di mata Angie

Berikut ini Adjie, di mata kekasihnya….yang ia tuliskan dalam blog pribadinya….

 

Tulisan dari : KOMPAS.com

ADJI MASSAID (The man I once ignored). Aku mengenal nama Adji Massaid sudah cukup lama. Namanya memang sudah tidak asing lagi dalam dunia perfilman dan persinetronan. Namun itu hanya sebatas mengenal dan sekedar tahu saja. Pada saat itu kami sama-sama masih menjadi calon legeslatif dari Partai Demokrat. Pertemuan partai, rapat – rapat partai dan kegiatan – kegiatan di partai membuat kami pun sering bertemu. Apalagi pada kesempatan mensukseskan calon Presiden Partai Demokrat : Susilo Bambang Yudhoyono.

Jujur, saat itu aku tidak tahu banyak tentang kehidupan pribadi Adji dan lebih daripada itu rasanya kami berdua pun tidak tertarik untuk ingin mengenal satu sama lain lebih jauh. Pembicaraan kami hanya sebatas pekerjaan, tidak pernah melewati batas privasi masing – masing. Rasanya kami berdua cukup memahami posisi masing – masing, sehingga kalaupun harus berbicara pasti topiknya tidak lari dari partai dan pemenangan pemilu.

Sebenarnya latar belakang public figure-lah yang membawa kami bergabung di Partai Demokrat (kami diajak oleh Sys NS untuk bergabung di PD, thank you mas Sys). Kami juga tergolong generasi muda. Dan sebenarnya, inilah yang bisa menjadi alasan rasional untuk membangun komunikasi diantara kami. Tapi entahlah …. saat itu saya sibuk dengan aktifitas sehari-hari dan dia juga sepertinya begitu. Yang pasti, pertama kali mengenal Adji kami berdua sedang tidak sendiri. Saya pada waktu itu sedang merajut asmara dengan seseorang begitupun Adji yang masih terikat perkawinan. Kami pun menghargai pasangan kami masing2.

Hari – hari di DPR saya lalui dengan penuh semangat ingin belajar dan belajar. Saya mulai menikmati ritme kerja yang benar-benar baru bagi saya. Dalam jadwal saya yang padat di gedung parlemen, sering saya bertemu dengan Adji namun itu sebatas, “say hello” saja. Pernah kami tidak sengaja bertemu di ruangan kerja salah satu teman fraksi, saat itu Adji sempat mengajak saya berdiskusi soal apa pendapat masyarakat tentang permasalahannya. Tapi saya enggan berkomentar terlalu banyak. Setelah saya beranjak dari ruangan tersebut ternyata Adji menitipkan pesan untuk disampaikan kepada saya bahwa dia tertarik dengan saya. Itupun saya tidak menanggapi secara serius tapi saya tanggapi secara ringan dengan memberikan support kepada Adji untuk tetap bertahan walau seberat apapun permasalahannya.

Walaupun demikian saat itu tidak ada perasaan yang ‘lain’ yang saya rasakan dan memang kamipun akhirnya berada dalam komisi yang berbeda. Ini jugalah yang membuat kami jarang sekali bertemu dan jarang berkomunikasi. Kami hanya bertemu pada rapat fraksi setiap jumat dan itu pun minim sekali interaksinya. Dia selalu duduk di sayap barat dan saya di sayap timur. Nothing special. Dia kuanggap sebagai teman biasa saja. Nothing more. Bukan Adji namanya kalau tidak terus mencoba dan mencoba. Sering aku dikirimi salam melalui orang-orang yang tinggal bersama saya.

“Ibu, ada salam dari Pak Adji’ tutur pembantu saya.

Namun aku selalu mengabaikannya. Bahkan terkadang walaupun ada ‘godaan-godaan’ kecil, itu selalu kuanggap ‘dasar laki-laki’. Pernah juga Adji memanggil nama saya lewat speaker sidang …. Angie! Dengan tatapannya yang ‘romantis semu’ namun saya pada waktu itu masih bisa menyakinkan diri saya bahwa itulah Adji. He is treating every woman like that because he is nice to everybody. Saya hanya tidak ingin menanggapi mas Adji serius, walaupun terkadang ketika bertemu dia selalu memberikan pujian….sekali lagi itu kuanggap sebagai basa – basi saja and Yes he is doing it to everybody. Pernah juga Adji menyampaikan kekagumannya pada saya lewat teman se-partai, pada waktu itu saya hanya menanggapi dengan kata-kata: ‘kayak nggak tahu Adji aja’. Tapi saya tetap menganggap Adji sebagai sahabat dan itu tidak mengurangi rasa persahabatan saya dengan dia dalam konteks kepentingan partai tentunnya.

Setelah beberapa waktu lamanya, sayapun akhirnya sendiri dan Adjipun sepertinya mulai menikmati kesendiriannya. Walaupun saya selalu mendengar bahwa Adji tidak pernah benar – benar sendiri, karena Adji adalah tipe orang yang easy going dan ingin bersahabat dengan siapa saja. Pernah suatu waktu dalam pertemuan partai seorang teman mengatakan: ‘Angie, Adji kirim salam ….. kayaknya dia naksir sama kamu’. Terus saya jawab dengan bergurau: “Keep trying hard, I need to see more effort”. Karena berbagai kesibukan, kami pun semakin jarang berkomunkasi. Namun tetap saja Adji selalu kirim salam melalui staff saya. Dan itupun saya tidak membalas salamnya, karena saya menganggap itu adalah gombalnya laki-laki. Yaah…itulah yang ada dibenak saya pada waktu itu : Adji termasuk laki-laki yang baik ke semua orang. Jadi biarlah aku menganggap semua itu sebagai angin lalu saja. Dan dalam hatiku …… Gombal.

Saya selalu menghindar dari Adji dalam setiap kesempatan. Bahkan pada setiap kunjungan partai ke daerah, saya selalu menanyakan asisten saya, apakah Adji ikut dalam rombongan. Dan saya pesankan, kalau ada, tolong diusahakan agar seat saya terpisah dengan Adji. Sebagaimana foto yang saya tampilkan dalam webblogs ini. Mungkin dapat bercerita banyak tentang penolakan saya terhadap Adji. Tapi semua itu akhirnya luluh lantah…………

 

Februari 5, 2011 Posted by | day of the day, tulisan pinjeman | Tinggalkan komentar

Hati vs Ego

Hati senang memahami;  Ego gemar memperdebatkan
Hati senang menyatukan;  Ego gemar memisahkan
Hati senang memaafkan;  Ego gemar mempermasalahkan
Hati senang merasa cukup;  Ego gemar merasa kurang
Hati senang merasa setara;  Ego suka terlihat lebih tinggi atau rendah
Hati senang kebersamaan;  Ego suka menajamkan perbedaan
Hati senang berhati-hati;  Ego suka tergesa-gesa
Hati senang mengalah untuk menang;  Ego suka yang penting menang
Hati senang berserah diri;  Ego suka caranya sendiri..

-Quantum Ikhlas-

Februari 4, 2011 Posted by | tulisan pinjeman | Tinggalkan komentar

Harta Kekayaan Hosni Mubarak

VIVAnews – Presiden Hosni Mubarak telah memimpin Mesir lebih dari 30 tahun. Lama menguasai negeri piramida itu, sejumlah kalangan menuduhnya  sudah menimbun harta berlimpah di sejumlah negara.

Harian Aljazair, Alkhabar, seperti dimuat ulang oleh JP News, melansir bahwa kekayaan keluarga Hosni Mubarak mencapai US$40 miliar atau sekitar Rp360 triliun. Kekayaan ini tersebar di beberapa rekening dan properti di Amerika Serikat, Swiss, Inggris, dan Jerman.

Suzanne, istri Mubarak, menurut laporan rahasia telah menjadi anggota klub miliarder sejak 2000. Selain rekening, Suzanne memiliki properti di pusat kota-kota besar di Eropa, seperti London, Frankfurt, Madrid, Paris, dan Dubai. Kekayaan Ibu Negara ini ditaksir US$3 – 5 miliar.

Anak pertama Mubarak, Alaa Mubarak yang memilih berkarir di perbankan, telah memiliki properti senilai US$8 miliar dolar, termasuk properti di Los Angeles, Washington, dan New York di mana dia memiliki real estate senilai US$2,1 miliar di pinggiran Manhattan. Dia juga dikabarkan memiliki dua kapal pesiar senilai 60 juta euro.

Menurut sumber koran itu, anak kedua Mubarak, Gamal Mubarak, memiliki kekayaan hingga US$17 miliar. Selain memiliki rekening, sekretaris jenderal partai berkuasa, Partai Nasional Demokrat ini, juga memiliki sejumlah properti yang tersebar tak hanya di Mesir.

Adapun Mubarak sendiri yang merupakan anak petani, memiliki kekayaan pribadi US$10 miliar. Sebagian besar dananya berada di bank-bank Amerika, Swiss, dan Inggris.

Sejak berkuasa pada 1981, Mubarak mampu membuat negara di Afrika Utara itu stabil. Rahasianya, dia membangun hubungan baik dengan negara-negara Barat dan Israel. Namun di balik kestabilan, korupsi, kemiskinan dan kekerasan oleh negara tumbuh subur.

Mubarak lahir 1928 di desa Kahel-el-Meselha. Dia tamat dari Akademi Militer pada 1949. Setelah perang Arab-Israel, Mubarak mendapat promosi menjadi Kepala Angkatan Udara Mesir, inilah pintu pertama dia masuk ke lingkaran elit politik.

Mubarak dikenal seorang pembantu setia Presiden Mesir Anwar Sadat. Dia diangkat jadi Wakil Presiden oleh Anwar Sadat pada 1975. Sejak itu dia memainkan peranan penting, membangun hubungan dengan negara-negara barat. Pada 1981, Sadat dibunuh, Mubarak naik menjadi orang nomor satu di Mesir.

• VIVAnews

Februari 4, 2011 Posted by | day of the day, tulisan pinjeman | Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: